-_20151119101306.jpg)
IKREATIFONLINE.COM. Fenomena batu akik memang telah merasuk ke seluruh lapisan. Bahkan orang sekelas Hutomo Mandala Putra atau biasa disebut Tommy Soeharto pun ikut larut dalam pesonanya. Merasa terpanggil untuk meningkatkan daya beli Batu Akik Nusantara, putra bungsu Presiden RI periode 1966-1998 ini pun menggelar acara bertajuk Kopdar (kopi darat—red) bersama pecinta batu akik dan Pameran Batu Akik Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah.
Dalam sambutannya, Tommy yang diangkat dan dilantik jadi Pembina Great Stone Nusantara (GSN) ini mengatakan bahwa ia juga ingin turut serta membenahi perdagangan batu mulia Indonesia. Meski bukan pecinta batu akik sejati,namun Tommy mampu mengkalkulasi tentang banyaknya rupiah yang masuk apabila masyarakat Indonesia memanfaatkan tren batu akik saat ini.
“Jumlah penduduk Indonesia ada 250 juta. Andai ada 40 persen saja, artinya ada 100 juta orang, tiap satu orang setiap tahunnya cukup membeli satu batu, baik cincin atau bros, tidak perlu muluk-muluk cukup yang Rp 200.000, maka akan ada uang Rp 20 triliun yang berputar setiap tahunnya di industri ini,” terangnya di depan pecinta batu akik yang memadati Ruang Balai Panjang Museum Indonesia TMII (18/4).
Tujuan untuk menghasilkan dan memanfaatkan kekayaan bangsa sendiri juga diungkapkan Tommy dengan sangat jelas. Ia menceritakan bagaimana batu- batu itu terbang ke luar negeri dan akhirnya kembali dibeli oleh rakyat Indonesia dengan harga yang luar biasa tinggi. Sementara sebenarnya semua batu yang berkualitas tinggi ada di Indonesia. Tommy berniat untuk menutup jalur perdagangan tersebut dengan tujuan tentu saja memperbaiki kondisi perekonomian bangsa, serta meningkatkan mutu daya jual batu tersebut ke kancah internasional.
Miris memang jika mengetahui bahwa banyak batu dari Indonesia yang berkualitas lantas diproses untuk di cutting dan dibentuk di luar negeri untuk selanjutnya dijual kembali ke Indonesia dengan harga yang sangat tinggi. Di depan para followernya Tommy mengatakan, “Batu dari Indonesia tidak kalah dengan batu luar seperti ruby, blue sapphire, atau emerald yang berharga ratusan juta rupiah. Bahkan beberapa batu mulia tersebut ada di Indonesia,” ujarnya.
Untuk itulah menurut Tommy, Assosiasi GSN harus bisa merangkul asosiasi batu lain yang sudah ada di Nusantara. Tommy berharap asosiasi ini bisa mengeluarkanstandarisasi nama-nama batu, ukuran batu, dan berat batu serta perkiraan tabel harga yang kemudian dikeluarkan dalam buku panduan batu mulia untuk kemudian dikeluarkan minimal setahun sekali. Sebab katanya, harga dan jenis batu di Nusantara sangat beragam. Makanya perlu disamakan persepsinya supaya tidak merugikan satu sama lain.
Lelang Batu
Menurut Tommy, GSN harus memiliki mesin potong dan poles batu yang bertaraf internasional. Karena kemajuan teknologi yang ada, sudah seharusnya batu-batu mulia di Indonesia dipotong secara baik untuk memaksimalkan hasil dari masing-masing batu. Itu akan memperbaiki harga jual dengan hasil pemotongan yang baik dan memiliki nilai jual yang tinggi. GSN juga harus bersinergi dengan para ahli supranatural agar manfaat dan faedahnya bisa sampai dipemakainya. Sebab di Indonesia masih sangat percaya akan hal-hal yang bersifat supranatural. Meskipun sepele, menurut Tommy hal itu penting untuk memasarkan batu mulia tersebut di pasar nasional. Dus, pameran dengan skala nasional maupun internasional yang dibarengi dengan seminar dan lelang harus sering dilakukan secara continue untuk mengetahui lebih jauh kemana batu ini harus dipasarkan. Berbicara tentang lelang batu, pada acara Kopdar malam itu Tommy melelang batunya yang berjenis Red Baron senilai Rp150 juta. Lelang itu sendiri, kata Tommy, bertujuan memuliakan anak-anak yatim dan mengangkat pamor kerajinan bangsa sendiri.