
Teks dan Foto : Ade Riyan Purnama
IKREATIFONLINE.COM. Keroncong adalah Sundari Soekotjo. Begitulah batas pengetahuan kita sebagai masyarakat Indonesia modern yang nyaris lupa akan kebudayaan bangsa sendiri. Demam K-Pop dan musik western seolah mendapatkan perlawanan setimpal dari seorang perem-puan cantik putri dari ikon keroncong, Sundari Soekotjo. Dialah Intan Soekotjo sang penerus ikon tersebut.
“Keroncong di Indonesia sudah mulai berkembang. Sudah mulai tumbuh komunitas keroncong muda dengan musisi yang usianya di bawah 30 tahun,“ jawab Intan ketika ditanya iKreatif tentang musik keroncong di Indonesia. “Meskipun sampai sekarang, peminatnya masih sangat segmented. Tapi tetap membahagiakan,“ lanjut wanita berusia 23 tahun ini menambahkan.
Mengangkat musik keroncong Indonesia sudah menjadi tekadnya. Konsistensi di jalur keroncong juga ia tunjukkan di berbagai perhelatan musik, termasuk di Tangerang Jazz Festival, Agustus lalu, dimana ia juga sempat berduet dengan sang Ibu. “Saya mengangkat musik keroncong pelan-pelan. Selangkah demi selangkah, agar bisa digemari,“ ungkap Intan yang berlatih vokal dengan Zwesti Wirabhuana dan mendalami teknik keroncong dengan Rieka Roslan.
Intan yang sejak kecil sudah “dicekoki” musik keroncong oleh eyangnya ini memang banyak ber-kreasi dalam bermusik. Katanya, saat ini keroncong sudah jadi mainstream. Karena itu wanita yang juga mengelola usaha money changer ini mencoba berdiri di tengah. “Aku eksperimental sih. Jadi packaging-nya lebih bisa diterima masyarakat. Kan tujuannya melestarikan kebudayaan, kalau nggak bisa diterima percuma,“ imbuh intan menjelaskan kenapa ia lebih sering menggunakan bahasa China atau Prancis dalam menyanyikan lagu-lagu keroncong. Bahkan ada juga keroncong versi Mandarin ala Intan.
Dalam menyanyikan lagu keroncong, tentu saja tidak semudah menyanyikan lagu pop. “Lebih sulit karena teknik vocal dan cengkoknya punya karakter yang berbeda. Dan penjiwaannya harus pas. Itu yang sulit,“ ungkap alumnus Public Relation London School ini. Intan mengakui bahwa kecintaannya pada musik keroncong sudah dimulai sejak kecil, di samping me-miliki Ibu yang musisi keroncong tulen, ia juga sudah terbiasa diperkenalkan dengan kebudayaan Jawa. “Aku sering nonton sinden bernyanyi,“ imbuh peraih ‘best perfomence’ di Korea Utara dalam acara Spring Frienship art festival ke-29 ini.
“Saya jadi terus ingin mencoba hal baru di dunia keroncong,“ kisah Intan dengan gembira. “Saya harus tetap stabil ada di tradisional di tengah masyarakat yang modern ini,“ tegasnya. Intan berharap bahwa masyarakat Indonesia dan generasi muda dapat ikut melestarikan budaya keroncong ini. “Nggak harus bisa nyanyi keron-cong. Yang penting tahu kalau ada musik keroncong se-bagai salah satu karakteristik bangsa,“ ujar Intan yang ingin terus mencoba hal baru di dunia keroncong.