Thursday, 22 Dec 2016

17 November 2015

Lenny Agustin - Fashion Designer


Lewat dua brand-nya, Lenny Agustin mendesain ulang pakaian tradisional dengan tampilan baru, praktis dan kekinian. Komitmen jelas, mempertahankan ciri utama busana tradisional di setiap karyanya.

Lenny Agustin - Fashion Designer

 

IKREATIFONLINE.COM. Lenny Agustin pertama kali dikenal ketika menjuarai lomba merancang busana Perkawinan Internasional tahun 2003. Sejak itu namanya identik dengan gaun pernikahan dan pesta.Belakangan, lulusan Akademi Seni Rupa dan Desain Mode (Asride) ISWI Jakarta  itu malah jatuh cinta pada tradisi budaya nusantara. 

Katanya, Indonesia memiliki budaya yang sangat beragam. Tak hanya pakaian adat, kain nusantara pun memiliki cita rasa seni yang tinggi. Belum lagi kerajinan tangan seperti sulaman benang, sulam usus, anyaman, rajutan dan sebagainya.

“Saya ingin mengekpresikan nuansa tradisional, gaya yang meng-Indonesia secara lebih ringan (mudah dikenakan), tapi tetap menjadi sesuatu yang personal dan unik,” tutur Lenny Agustin. Dan kini, ia selalu memasukan unsur budaya lokal dalam setiap karyanya.

Perempuan asal Surabaya ini puningin mengadopsi budaya Indonesia ke kehidupan masa kini. “Dan ini adalah soal cara, yaitu bagaimana menciptakan style, memilih warna, menselaraskan teknik,” papar pengagum Christian Lacroix, fashion designer asal Prancis itu.

Dua Branding

Lewat lini utama dengan brand dari nama sendiri, “Lenny Agustin”, lulusan Bunka School of Fashion Jakarta dan La Salle College Jakarta itu kemudian merancang jenis busana cocktail,yang sifatnya custom made. “Lenny Agustin” khusus untuk produk pesanan dengan harga mulai Rp1,5 juta.

Inspirasi “Lenny Agustin” datang dari budaya Indonesia yang diberi sentuhan budaya asing. Misalnya kain sarung atau kain tenun yang diolah dalam pola seni origami dari Jepang. Koleksi Lenny Agustin secara konsisten dilansir dengan tema baru sekali setahun dalam sebuah show. Lalau apa ciri karyanya? Tampilannya selalu unik, playful, menginspirasi, tapi fashionable saat dikenakan.

Pada tahun 2008, mahasiswi semester dua magister pasca sarjana jurusan seni urban dan industri budayadari Institut Kesenian Jakarta itu kemudian menciptakanbrandlini kedua, dengan nama“Lennor”. Namanya diambil dari bahasa gaul Gypsy yang berarti “musim panas”. “Lennor”dijual dengan harga di bawah Rp1 juta,  di butik-butik tertentu dan pusat belanja.

Berbeda dengan karakter “Lenny Agustin” yang lebih eksklusif dan spesifik pada segmen pasar tertentu, “Lennor” adalah koleksi siap pakai (ready to wear) yang berdesain global, ringan, muda, trendi, dengan permainan warna-warna cerah sehingga terkesan rileks namun optimis, serta berkonsep padu padan.

Sesuai komitmen untuk selalu melibatkan budaya Nusantara dalam karyanya, dalam brand “Lennor”, Lennypun menggunakan batik, lurik Yogya, tenun Bali, ikat atau jumputan Jawa Tengah dan sasirangan Kalimantan, serta sarung Makassar. Bahan “Lennor” dipilih cenderung yang ringan dan nyaman. Alasannyakarena Indonesia beriklim tropis dan sesuai konsep dasar musim panas. Tema baru “Lennor” dilansir setiap sekali dalam setahun. Tema besar itu kemudian dilansir secara bertahap setiap dua atau tiga bulan sekali. Walaupun berbeda pangsa pasar, namun kedua lini itu tetap memakai bahan kain tradisional; batik, sarung, tenun,lurik, dan lainnya. Satu ciri khasnya, sentuhan etnik dan tradisional dengan desain modern dan funky.

“Saya berusaha mendesain ulang pakaian tradisional dengan penuh inovasi.Yaitu dengan tampilan baru, kekinian dan dengan cara memakai yang lebih praktis tetapi tetap mempertahankan ciri-ciri utama dari busana tradisional tersebut,” ujar peraih penghargaan 25 Inspiring Women 2014 versi majalah Marie Claire ini.

Ibu tiga anak itu menyebut tiga alasan utama mengembangkan dan memakai kain-kain tradisional. Pertama, ia menginginkan budaya Indonesia bisa berkembang sesuai zaman. Kedua, ia ingin para perajin tetap memiliki pekerjaan dan tetap memproduksi serta mengembangkan kain tradisional. “Dan terakhir, jika karya saya kemudian dilihat orang dari negara lain, saya berharap mereka langsung mengenali bahwa saya adalah perancang dari Indonesia,” pungkas  desainer yang kini memiliki 25 orang karyawan ini. 





NEWSLETTER


creative-ads