Wednesday, 31 May 2017

21 September 2016

Beton Mengambang, Solusi Teknologi Atasi Kemacetan

Beton Mengambang, Solusi Teknologi Atasi Kemacetan

Jakarta,iKreatifonline.com—Seorang arsitek mengungkapkan rasa herannya saat menyaksikan sampel aplikasi teknologi corrugated mortar pusjatan (CMP) yang bisa mengambang. ‎

"Sebagai arsitek, saya baru melihat ini. Saya surprise ada beton bisa ngambang," ujarnya ketika mengunjungi sebuah stan di acara Pekan Inovasi, Sains dan Teknologi Litbang 2016 yang berlangsung Bulan Agustus lalu, disalah satu hotel berbintang di kawasan Ancol, Jakarta Utara. 

Teknologi CMP yaitu mengganti komponen batuan dengan busa sehingga bisa mengambang, tetapi dipastikan tidak mengurangi kekuatan konstruksi yang dikembangkan oleh Puslitbang Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Balitbang Kementerian PUPR,. 

Teknologi CMP memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan flyover menggunakan konstruksi konvensional. CMP diklaim menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan yang dialami kota-kota metropolitan di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, dan lain-lain. 

Keunggulan dari teknologi CMP diantaranya dapat menghemat dana pembangunannya hingga 60-70 persen serta memangkas waktu pengerjaan hingga 50 persen jika dibandingkan dengan konstruksi konvensional. Selain tentunya ramah lingkungan, karena menggunakan lebih sedikit material konstruksi terutama bahan alam.

Teknologi CMP  juga sudah diaplikasikan dalam pembangunan flyover Antapani di kota Bandung. Jembatan tersebut bahkan sudah diresmikan Kementerian PUPR, Juni 2016 lalu. Dalam kesempatan peresmian tersebut, Herry Vaza, Kepala Pusat Jalan dan Jembatan (Pusjatan), Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian PUPR, menjelaskan bahwa teknologi CMP  menggabungkan teknologi struktur baja bergelombang dengan kombinasi mortar busa dan  beton ringan. 

“Teknologi mortar busa ini digunakan pengganti timbunan tanah, atau agregat yang biasanya dipakai sehingga konstruksinya sangat ringan, tidak perlu dinding penahan,” jelasnya, seperti dikutip dari siaran pers Kementerian PUPR.

Biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan jembatan layang pun jadi lebih murah. Herry  mencontohkan Pembangunan jalan layang Antapani yang seharusnya memakan waktu 2 tahun dengan anggaran sekitar Rp 100 miliar, bisa ditekan menjadi 6 bulan dan Rp 35 miliar. Panjang jalan layang Antapani sekitar 300 meter. 

Lebih lanjut Herry mengatakan teknologi CMP ini merupakan bentuk inovasi dalam membangun kota metropolitan. Di mana yang menjadi permasalahan utama yakni kemacetan. Herry i berharap teknologi ini ke depannya dapat diaplikasikan untuk pembangunan proyek infrastruktur lainnya di seluruh Indonesia. Sehingga permasalahan-permasalahan infrastruktur terutama soal kemacetan dapat terselesaikan.

Jika jalan layang Antapani sebagai percontohan ini berhasil, maka akan didorong pembangunan jalan layang di perlintasan sebidang jalan dengan perlintasan kereta api. Sehingga bisa menambah kecepatan kereta api yang saat ini 60 km/jam - 80 km/jam, bisa sampai 100 km/jam.

"Penerapan teknologi CMP sudah waktunya dilaksanakan, sebagai solusi mengatasi kemacetan di kota-kota metropolitan. Dengan kemacetan saja nilai kerugiannya bisa triliunan. Harapannya, CMP bisa mengurangi anggaran dan mengurangi stres warga," pungkasnya. Ade Riyan Purnama

 




NEWSLETTER


creative-ads