
Teks: Rusli M. Tatang
IKREATIFONLINE.COM. Oktober 2015 nanti, Kota Tangerang Selatan akan genap berusia tujuh tahun. Kota yang berdiri dari hasil pemekaran Kabupaten Tangerang, Banten, ini memang terus berdandan. Ibarat seorang dara, Tangsel memang tengah dipoles agar mampu memikat siapa pun yang datang ke kota seluas 147.19 km persegi ini.
Dalam perjalanannya, kota dengan populasi 1,2 jutaan penduduk ini memang terus berkembang. Bahkan dari perkembangannya, Tangsel kini dikenal sebagai kota pemasok perumahan dan apartemen. Proyek properti memang menjamur di sana. Dari tujuh kecamatan yang ada di Tangsel, 4 di antaranya (Pondok Aren, Ciputat, Pamulang, dan Serpong) dikenal sebagai pemasok perumahan aktif.
Tapi belakangan, sejumlah terobosan dilakukan Pemeritah Kota Tangsel agar wilayahnya tak hanya dikenal sebagai basis perumahan.Pemangku kepentingan digandeng guna mewujudkan sesuatu yang baru. Partisipasi warga dan keterlibatan swasta didorong untuk menghasilkan ekonomi kreatif.
“Ekonomi kreatif kami maknai bahwa bagaimana mendorong masyarakat untuk bisa mandiri. Salah satu hal yang kami lakukan adalah dengan melihat potensi apa saja yang ada di Tangsel. Kami punya sumber daya manusia yang luar biasa. Jadi kami punya pola pendekatan di ekonomi kreatif berdasarkan kultur,” terang Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany.
Ya, setidaknya kini di tujuh kecamatan yang ada di Tangsel (Ciputat, Ciputat Timur, Pamulang, Pondok Aren, Serpong Utara, Serpong, dan Setu) tengah disemai bibit kreatif yang kelak akan siap dipanen.
Khusus di bidang kuliner saja misalnya, Tangsel dinilai cukup potensial. Misalnya di wilayah Kecamatan Setu yang diplot sebagai wilayah berbasis home industry, terutama sebagai penghasil Kacang Kranggan. Lalu di wilayah Serpong yang memiliki kuliner khas berupa tahu. Kabarnya juga, Tangsel juga tengah meracik minuman khas daerahnya yang terbuat dari sari buah.
Boleh jadi, real estate memang sudah identik dengan wilayah Tangsel. Tapi jangan lupa, bahwa Tangsel juga memiliki potensi besar di industri kuliner. Sebut saja misalnya sentra kuliner di Bintaro seperti; Bintaro Nine Walk, Lot9, Talaga Sampierun, atau di Mall BXChange. Bergeser ke BSD City, kita juga akan menemukan sentra kuliner yang berada di Pasar Modern BSD. Tak jauh dari BSD, ada Alam Sutera yang terkenal dengan sentra kuliner keluarga. Tak pelak, semua itu menjadikan Tangsel sebagai pusat kuliner Nusantara. “Kalau kuliner memang sudah banyak di sini, jadi tidak perlu saya dorong juga mereka sudah tumbuh sendiri,” tegas Airin.
Kendati Tangsel tak memiliki sumber daya alam, namun Pemkot optimistis bahwa ekonomi kotanya akan terus bergerak. Salah satunya dari sektor kuliner. “Jadi dengan ekonomi kreatifinilah yang menghidupkan atau menjadi salah satu potensi pertumbuhan PAD kita,” ujar Airin.
Satu hal yang patut dicatat bahwa Tangsel memiliki potensi ekonomi kreatif di segala bidang. Bukan hanya kuliner saja. Untuk seni dan budaya misalnya, Tangsel memiliki Sanggar Seni Puspo Budoyo di Ciputat. Lalu ada juga Kandank Jurank Doank yang dikenal sebagai rumah kreativitas. Ada lagi festival-festival budaya yang rajin digelar setiap tahun dengan menampilkan para senimansenimanBetawi.
Selain itu, Tangsel juga memiliki banyak talenta-talenta kreatif yang mewakili masyarakat urban, sebut saja aktor kawakan Mathias Muchus dan Sutradara Mira Lesmana, dan masih banyak lagi talenta kreatif yang berdomisili di Tangsel. Tak terbayangkan jika talenta-talenta tersebut bersinergi dengan Pemkot dalam membangun industri kreatif. Hasilnya pasti luar biasa. Tunggu saja gebrakan walikota selanjutnya.