
Teks dan Foto: Rusli M. Tang
IKREATIFONLINE.COM. Kalimat di atas bukan bermaksud promotif. Tapi memang begitu adanya. Dari sejumlah penjaja gudeg yang ada di Kota Pelajar, yang satu ini memang beda. Bahkan Gudeg Yu Djum (Pusat) termasuk yang banyak direkomendasikan orang Yogyakarta kepada para pelancong. Termasuk kepada saya.
Bagi Anda yang berkun-jung ke Yogyakarta, memang kurang afdol rasanya kalau tidak mencicipi kuliner khas Yogyakarta yang terdiri dari ayam kampung, telur bebek, gori (nangka), dan sambel krecek. Dengan campuran bumbu tradisional, rasa gudeg memang makyus dan ngangeni. Tak heran jika warung-waung gudeg yang ber-tebaran di Yogyakarta tetap ramai peminat.
Berdasarkan informasi, akhirnya saya memilih Gudeg Yu Djum sebagai wisata kuliner kali ini. Kami pun langsung datang ke Gudeg Yu Djum (Pusat) yang berlokasi di Jalan Kaliurang Km 4,5, tepatnya di Karangasem Mbarek CT III/22. Lokasinya agak ke dalam dari jalan raya. Meski tempatnya “tersembunyi”, kedai gudeg ini ternyata tetap diburu pecinta kuliner. “Kalau musim liburan, kita bisa antre makan di sini Pak,” ujar Mario, salah seorang pecinta gudeg Yogyakarta kepada tim iKreatif.
Adalah Djuwariah (yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Yu Djum) pendiri gudeg yang legendaris ini. Kendati brand Gudeg Yu Djum sudah memasuki generasi kedua dan ketiga, namun soal resep dan cita rasa tetap terjaga hingga ke anak cucunya. “Saat ini ada empat tempat Gudeg Yu Djum (Pusat), yang dikelola oleh anak dan cucuk Ibu,” terang Ayik, pengelola sekaligus ponakan dari Djuwariah.
Lalu apa bedanya Gudeg Yu Djum dengan lainnya? Menurut Ayik, Gudeg Yu Djum, selain memiliki peng-alaman panjang membuat gudeg, rasanya juga terasa pas di lidah. Tak heran jika, Gudeg Yu Djum begitu dige-mari masyarakat, termasuk oleh kalangan artis yang menyambangi Yogyakarta. Soal harga, per porsi dijajakan mulai dari Rp10.000 hingga Rp40.000. Sementara untuk yang ingin membawa pulang (oleh-oleh) harganya mulai dari Rp50.000 hingga Rp260.000.
Konon sebelum menjadi penjual gudeg, Ibu Djuwariah hanyalah seorang pencari rumput untuk makanan hewan ternak. Justru dari hasil pen-jualan rumput itulah yang dijadikan modal awal Djuwariah untuk masuk ke bisnis kuliner dengan menjual gudeg pada tahun 1950.
Kini, Yu Djum memang sudah tidak aktif lagi berdagang. Bisnis-nya diserahkan ke anak-anaknya yang berjumlah empat orang yang terjun ke bisnis gudeg. Saat ini Gudeg Yu Djum mempekerjakan sekitar 100 karyawan yang tersebar di kedai-kedainya yang berada di Yogyakarta, Sleman, dan Gunungkidul.