-__membangun_yogyakarta-_dari_kreativitas_warganya_20151229040511.jpg)
Teks dan Foto: Ade Riyan Purnama
IKREATIFONLINE.COM. Kota yang ngangenin. Mungkin itu yang ada dibenak wisatawan yang pernah berkunjung ke Yogyakarta. Selain dikenal sebagai kota budaya dan kota pelajar, banyak hal lain yang menarik dari kota seluas 32,8 kilometer persegi ini. Diantara yang menonjol itu adalah keramahtamahan masyarakatnya, sesuai tradisi adat, seni dan budayanya. Itulah yang kemudian menjadi magnet dan daya pikat wisatawan untuk datang dan datang lagi.
Seperti siang itu, tampak seluruh pegawai negeri sipil di kantor Walikota Yogyakarta mengenakan busana tradisional. Pegawai laki-laki memakai surjan lurik dan jarik. Sedangkan pegawai perempuan memakai kebaya polos dan jarik. Aturan berbusana adat seperti itu ditetapkan oleh Walikota Yogyakarta, Drs. H. Haryadi Suyuti. Alumnus Universitas Gadjah Mada itu meminta seluruh PNS, setiap hari Kamis Pahing berbusana daerah.
Kepada redaksi majalah iKreatif (Erfendi Eka Putra, Zal Hanif, Rusli M. Tang, dan Ade Riyan Purnama), Walikota Yogyakarta ke-9 itu menjelaskan alasannya. Tidak lupa ia turut membanggakan warga kotanya yang memang memiliki kreativitas nomor wahid. Berikut petikan wawancaranya:
Yogyakarta adalah kota istimewa dengan potensi industri kreatif yang katanya juga istimewa pula. Bisa Anda jelaskan soal tersebut? Dari definisinya, industri kreatif berasal dari pemanfaatan kreativitas dan keterampilan baik individu maupun kelompok yang kemudian menjadi sebuah lahan pekerjaan bagi pelakunya. Kaitannya dengan keistimewaan Kota Yogyakarta adalah daya kreativitas tersebut ditopang oleh Pemkot dengan menerbitkan Keputusan Walikota (Kepwal) tentang produk unggulan daerah. Dari sini, pemerintah memandang bahwa pembinaan yang terarah akan mendorong pertumbuhan industri tersebut.
Industri apa saja yang menjadi unggulan?
Kami memiliki enam industri unggulan yaitu; produk kerajinan perak, produk kerajinan batik, produk cor logam, fesyen, produk kerajinan kulit dan kuliner bakpia. Sebenarnya sektor yang menunjang pertumbuhan industri kreatif di Yogyakarya itu sangat banyak. Tapi pemerintah di sini mencoba untuk memetakan sektor mana saja yang menonjol dan utama untuk dikembangkan. Enam sektor itulah yang lantas menjadi Kepwal.
Di Indonesia ada beberapa kota yang pertumbuhan industri kreatifnya tinggi selain Yogyakarta. Apa yang membedakan Yogyakarta dengan kota-kota tersebut?
Yogyakarta adalah kota dengan segudang potensi ekonomi kreatif. Terentang dari mulai dari sumber daya manusia hingga kultur tradisional yang masih melekat. Perbedaannya ada pada masyarakatnya. Kalau Yogyakarta itu masyarakatnya semua kreatif, kalau daerah lain misalnya Bandung itu daerahnya yang kreatif. Seni dan budaya itu kuat di Yogyakarta. Dan bicara seniman nasional, produksinya ada di Yogyakarta. Kebudayaan juga begitu, orang kalau datang ke Yogyakarta akan mendapati bahwa kebu-dayaannya masih sangat terjaga.
Sebagai kota dengan kebudayaan yang masih kuat, bagaimana pendapat Anda tentang Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) yang sebentar lagi akan berlaku di Indonesia?
Sebelum adanya pasar bebas datang, masyarakat Yogyakarta sudah mengekspor hasil produksi mereka ke luar negeri. Seperti kerajinan kulit dan perak misalnya, mereka sudah ekspor ke banyak negara. Bahkan orang Korea suka sekali dengan kerajinan kulit asal Yogyakarta. Begitu juga dengan industri tekhnologi informasi. Kampus-kampus di Yogyakarta menciptakan anak-anak muda yang karyanya dijual keluar negeri. Seperti perusahaan developer games asal Perancis ‘Gameloft’ yang memilih untuk berinvestasi di Yogyakarta. Kemudian ada Jogja Digital Valley yang merupakan CSR dari Telkomsel dan melakukan inkubasi bisnis anak muda.
Apakah Pemkot Yogyakarta juga secara berkala mengadakan pameran atau promosi industri kreatifnya?
Salah satu fokus pembinaan UKM kita adalah market. Hampir setiap bulan kita wajibkan. Di sisi lain kita juga menyiapkan pelaku UKM untuk lebih kreatif menjajakan produknya seperti secara online maupun menggunakan E-Commerce.
Berapa target pertumbuhan ekonomi Yogyakarta secara keseluruhan di tahun 2015?
Kami menargetkan pertumbuhan ekonomi Yogyakarta dalam RPDMJ 2015 adalah 4,59%-5,8%. Dan target tersebut masih on going.
Apa saja yang menjadi magnet Kota Yogyakarta ini berkaitan erat dengan industri kreatifnya?
Banyak sekali. Enam sektor di atas sudah menjawab. Yogyakarta adalah kota dengan banyak sekali magnet wisata. Misalnya kuliner, gudeg masih jadi nomor satu untuk kuliner. Tapi selain itu juga masih ada bakpia, banyak kampung-kampung di Yogyakarta yang rumah penduduknya memang menghasilkan bakpia. Itu merupakan salah satu sentra ekonomi kreatif yang terjaga di Yogyakarta.
Lalu dalam bidang pariwisata, Yogyakarta adalah kota yang lengkap destinasi pariwisatanya. Kami punya pariwisata budaya seperti keraton, Taman Sari, dan lainnya. Kami juga memiliki wisata edukasi seperti kebun binatang dan taman pintar, lalu wisata sejarah seperti candi dan benteng-benteng, juga wisata belanja Malioboro yang hingga kini masih menjadi ikon kota Yogyakarta. Kami itu membangun Yogyakarta itu dari kreativitas warganya.
Apakah ada yang menurut Anda masih dirasa kurang dan harus segera dibenahi?
Ya, jelas ada. Saya melihatnya dari sisi wisatawan. Kenaikan prosentase wisatawan di Yogyakarta terus meningkat memang, tetapi lamanya kunjungan mereka masih di bawah standar. Saya memberi standar untuk wisatawan menginap paling tidak tiga hari di Yogyakarta, tapi nilai rata-ratanya belum sampai ke situ. Karenanya, kami terus mencoba memberi suguhan event kebudayaan yang baik supaya para wisatawan makin betah tinggal di Yogyakarta. Dan yang jadi pekerjaan rumah terbesar saya adalah idiom bahwa Yogyakarta hanyalah kota bonus bagi wisatawan mancanegara setelah mereka berlibur ke Bali.
Kabarnya perkembangan ekonomi kreatif di Kota Yogyakarta mengalami kendala di permodalan dan pemasaran. Apa benar demikian? Hampir semua orang mengatakan bahwa kendala UKM adalah permodalan dan pemasaran, tetapi dari hasil survey kami hanya 20% UKM di Jogja yang terkendala permodalan. Salah satu kebijakan Pemkot Yogyakarta untuk menjembatani masalah permodalan ini adalah menggelontorkan tambahan modal kepada BPR Bank Jogja sebesar Rp20 miliar yang diharapkan 50%-nya kredit yang dikucurkan diperuntukkan bagi pelaku UKM Yogyakarta. Sedangkan untuk pelaku yang masih sangat mikro dibantu penguatan modal lewat program Penumbuhkembangan Ekonomi Berbasis Kewilayahan (PEW).
Apa saja yang menjadi kendala dalam memajukan potensi industri kreatif di Yogyakarta selama ini?
Para pengusaha di Yogyakarta sebenarnya sudah sangat kreatif, sehingga saat mereka menemui hambatan akan dengan cepat dicari solusinya. Namun harus saya akui, bahwa UMKM di sini memang perlu penanganan khusus supaya bisa bersaing dengan pasar lokal dan internasional.
Mengenai hal tadi, apa yang Anda harapkan ke depan-nya sebagai solusi dari kendala tersebut?
Saya sangat berharap ke depannya bisa dibentuk suatu wadah bersama yang lebih terintegrasi untuk komunitas kreatif tersebut. Ini akan memungkinkan kontribusi pemerintah yang lebih luas. Misalnya dalam pengurusan perizinan hingga hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Dengan demikian setiap potensi yang muncul bisa terpantau.