
Teks: Erfendi Eka Putra
IKREATIFONLINE.COM. Menyadari bahwa Pekalongan tidak memiliki sumber daya alam dan komoditas mumpuni, maka ketika terpilih pertama kali memimpin Pekalongan tahun 2005, Muhammad Basyir Ahmad Syawie memutuskan industri tekstil khususnya batik, harus menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi.
Basyir melihat, satu-satunya industri yang cukup kuat saat itu adalah tekstil. Ia pun kemudian merancang strategi. Sebagai anak seorang pengusaha tekstil ia paham betul bagaimana membangun industri produk kultural itu. Menurutnya, batik tidak bisa bangkit hanya sekadar promosi.
Anak dari Aminah Said Basalamah itu pun kemudian meletakkan fondasi dasar untuk memperkuat industri batik. ’’Pertama, soal ilmunya. Batik adalah warisan budaya. Jadi, semua tentang batik, mulai sejarah, filosofi, hingga cara-cara membuat batik, harus disebarluaskan,’’ ungkapnya, seperti dikutip dari koran Jawa Pos.
Dengan pemikiran tersebut, Basyir kemudian mewajibkan muatan lokal batik dalam kurikulum SMA se-Pekalongan. Tidak berhenti di situ, dia pun menjadi salah seorang pendorong cikal bakal jurusan batik di SMKN 3 Pekalongan, program pendidikan (prodi) batik di Universitas Pekalongan, hingga Politeknik Batik Pusmanu.
“Jadi, semua orang bisa mendalami batik, baik secara keterampilan maupun ilmu,’’ jelasnya. Selain itu, dia berpikir keras untuk membangun ekosistem yang mendukung produksi batik sekaligus mendorong daya tarik publik. Misalnya, menginisiatori industri canting sebagai alat untuk membatik.
Setelah semua fondasi berdiri, barulah Basyir ambil langkah promosi. Salah satu momentum yang dimanfaatkan adalah saat Malaysia mengklaim batik sebagai warisan budaya negara mereka pada akhir 2007. Bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) ia mengajukan permohonan pengakuan batik sebagai Warisan Budaya Indonesia kepada UNESCO. ’’Saya rapat 36 kali pada 2007–2009 hingga akhirnya batik menjadi warisan budaya dunia dari Indonesia,’’ kenangnya.
Usahanya tidak sia-sia. Pada 2013, sektor industri tekstil mampu menyumbang produk domestik regional bruto (PDRB) hingga 19,06 persen dengan total 861 industri batik menengah ke atas. Sektor perdagangan menyumbang PDRB 23,52 persen nilai ekspor yang mencapai US$25,3 juta.
Kini, yang paling dibanggakan adalah pengakuan publik terhadap Pekalongan sebagai Kota Batik. Dia tidak menampik, Jogjakarta maupun Solo punya sejarah yang lebih panjang soal batik. Namun, kata Basyir, Pekalongan bisa menggabungkan sejarah tersebut dengan perubahan zaman sekarang agar batik tetap diminati.