-_maestro_cerita_bermoral_20151118035126.jpg)
Teks & Foto : Ade Riyan Purnama
IKREATIFONLINE.COM. Karyanya telah banyak diangkat ke layar kaca. Nyaris tak pernah membuat skenario bertema percintaan, karena ia bermain di genre sosial. Mungkin tak banyak yang tahu tentang peran seorang scriptwriter. Padahal ia menjadi orang pertama yang melepas ide cerita dalam produksi film atau serial. Scriptwiter atau yang lebih dikenal dengan istilah penulis skenario, memiliki posisi yang strategis tak ubahnya seorang sutradara maupun produser. Hanya saja ia hanya ada di belakang layar dan menjadi background besar di balik asyiknya sebuah tontonan.
Dalam satu kesempatan, iKreatif menemui salah seorang penulis cerita dan skenario senior yang sarat prestasi. Dialah Nadjib Kartapati Z. Pria yang sempat menjadi jurnalis ini memang telah banyak menghasilkan cerita pendek (cerpen) yang akhirnya diangkat ke dunia layar kaca. Bahkan skenario pertamanya yang diambil dari karya cerpennya mendapatkan Piala Vidya di tahun 1998.
“Dalam Bayangan Ibu, itu judul cerpen saya yang menang sebagai juara satu di lomba cerpen Majalah Pertiwi. Lalu saya adaptasi menjadi skenario dan mendapat juara satu juga di Festival Sinetron Indonesia dalam kategori drama lepas. Dan menariknya, itu adalah skenario pertama saya,“ tutur pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, 60 tahun silam ini. Dari sinilah kisah sukses seorang Nadjib terus berlanjut. “Setelah dapat Piala Vidya, beberapa tawaran menulis skenario datang,” lanjutnya.
Nadjib telah menjadi penulis cerpen sekaligus jurnalis di tahun 1978. Beberapa jabatan seperti di sejumlah media sudah dicicipinya. Mulai dari menjadi redaktur pelaksana Majalah Srikandi, redaktur pelaksana Majalah Kriminal dan Pencegahan, redaksi Majalah Monalisa, hingga akhirnya singgah di Majalah Sarinah. Dalam kiprahnya, Nadjib juga banyak mengantongi beberapa kejuaraan cerpen tingkat nasional dan kemudian mengangkat cerpen tersebut ke dalam film layar kaca.
“Skenario FTV Sinema Wajah Indonesia (SIWI) yang berjudul Undangan Kuning berhasil mendapatkan rating tertinggi, itu juga diambil dari cerpen saya yang menang dalam lomba cerpen humor. Dan saya jadikan salah satu skenario untuk FTV SIWI, “ terangnya.
Dunia televisi yang lebih banyak didominasi oleh sinetron stripping membuat Nadjib merasatak lagi memiliki lahan. “Saya nyaris tidak pernah membuat skenario tentang kisah percintaan. Kaku dan ‘kagok untuk saya,“ jelasnya memberikan alasan. Semua karyanya berkisar di genre sosial. Karena itulah Deddy Mizwar (aktor yang kini menjadbat sebagai Wakil Gubernur Jawa Barat) menjadikan Nadjib sebagai salah satu penulis skenario untuk program SIWI (sebuah program yang di garap oleh Citra Sinema bekerja sama dengan SCTV). Program tersebut hanya menampilkan tontonan dengan genre yang dimiliki Nadjib, yaitu unik dan membumi serta memiliki daya kearifan budaya lokal yang kuat.
Saat ditanya tentang maraknya tontonan di televisi Indonesia, Nadjib mengatakan bingung. Sebab begitu banyak tontonan yang menurutnya abal-abal. “Primetime diisi oleh jenis tontonan yang kurang baik,“ lirihnya gemas. Bahkan Nadjib mengatakan akan sulit sekali mengubah paradigma masyarakat Indonesia dengan kualitas tontonan yang tidak berkualitas seperti ini.
Di samping menulis skenario Nadjib juga tengah mengadakan sebuah pelatihan menulis skenario yang ia beri nama Kelas Penulisan NKZ (Nadzib Kertapati Z). Kelas penulisan NKZ ini adalah sebuah komunitas yang tengah dirintis oleh Nadjib untuk membagikan ilmunya dengan cuma-cuma dan diprakarsai oleh cerpenis Laily Lanisy. Kelas ini juga sudah memiliki dua generasi, dan saat ini generasi kedua sudah berjalan dengan baik.
Harapan Nadjib cukup besar untuk kelas di generasi kedua ini, sebab ia memang sangat berharap makin banyak penulis skenario yang memiliki kualitas baik sehingga bisa menghasilkan tontonan yang baik pula untuk masyarakat Indonesia. “Semoga ada yang netes (berhasil—red),” ujarnya menutup sesi wawancara.