Thursday, 22 Dec 2016

23 November 2015

HANITIANTO JOEDO, PRAKTISI ANIMASI: MEMPERJUANGKAN KARYA ANIMASI ANAK NEGERI

IA INGIN MEMBANGUN APRESIASI MASYARAKAT TERHADAP KARYA ANIMASI. KARENA MENURUTNYA ANIMASI BISA DILAKUKAN OLEH SIAPA SAJA, DIMANA SAJA, DAN KAPAN SAJA.

HANITIANTO JOEDO, PRAKTISI ANIMASI: MEMPERJUANGKAN KARYA ANIMASI ANAK NEGERI

 

Teks: Erfendi Eka Putra

IKREATIFONLINE.COM. Berbicara animasi, Indonesia bisa dibilang jauh tertinggal oleh negara lain. Betapa tidak, negara lain sudah punya film animasi yang menjadi keunggulannya. Sedangkan Indonesia? Masih belum terlihat. Namun dengan keberadaan Indonesia yang belum memiliki keunggulan dalam bidang animasi, banyak orang terus berjuang untuk hal itu.

Nah, salah satunya adalah Hanitianto Joedo, SH. Lulusan Universitas Gadjah Mada ini yang tampak bersemangat menceritakan pengalamannya memasuki dunia animasi. Lelaki yang menggeluti animasi sejak tahun 2000 silam nampak serius untuk itu. Padahal latar belakang pendidikannya adalah sarjana hukum.

Pada awalnya, ia diajak bergabung oleh salah satu studio animasi di Jakarta yang sedang membuat serial animasi religi 30 episode. Hingga pada akhirnya ia pernah membuat film animasi untuk luar negeri, yaitu untuk Australia dan Malaysia. Salah satu karyanya bersama teman-teman adalah iklan animasi, BRI Britama, dengan gambar angin puting beliung.

Keseriusannya di pentas animasi berlanjut. Joedo kemudian juga mendirikan Sekolah Animasi yang diberi nama ‘Padepokan Animasi’ di Yogyakarta. “Saat itu saya merasa menemukan sesuatu yang menggugah spirit dalam diri untuk mulai konsen di dunia animasi. Sejak saat itu saya mulai mempelajari berbagai hal di dunia animasi, khususnya dalam hal industri dan bisnisnya yang sampai saat ini belum tertangani dengan baik dan benar,” tambah pendukung acara kuis apa ini-apa itu, russian-roulette, pundi-pundi, warna-warni, dan lain-lain.

Menurutnya animasi di Indonesia kurang berkembang karena paradigma masyarakat mengenai animasi masih sebatas film konsumsi anak-anak. Padahal animasi bisa masuk ke seluruh kalangan. Joedo juga ingin membangun apresiasi masyarakat terhadap animasi. Karena menurutnya animasi bisadilakukan oleh siapa saja, dimana saja dan kapan saja. “Mengubah paradigma artinya mengubah padangan dengan mendidik pasar, seperti apa animasi, bagaimana prospeknya dan sebagainya, itu baru satu hal yang mendasar. Karena perfilman Indonesia hanya mengikuti pasar, mereka tidak berani mencoba untuk membuka atau mendidik pasar. Coba saja lihat, begitu film religi laris, semua bikin. Begitu film horor lari mereka ikut,” terang pengajar animasi diberbagai kampus dan sekolah kejuruan ini.

Media televisi Indonesia menurutnya masih enggan menampilkan animasi buatan pelaku animasi di Tanah Air. Mereka lebih suka menampilkan animasi Spongebob atau Upin Ipin dan animasi dari luar negeri lainnya daripada produk animasi lokal.

Karena itulah laki-laki yang murah senyum dan sering bercanda itu tanpak kecewa. Menurutnya dukungan pemerintah dan stakeholder lainnya masihminim. “Di Jogja ini ada puluhan studio animasi. Tapi apakah semuanya survive? Lalu apa dukungan pemangku kepentingan,“ tanyanya. Ia mengaku miris melihat kondisi yang ada sekarang. Karena itu kepada anak didiknya ia sering mengingatkan bahwa animasi saat ini belum dapat dijadikan nafkah jika dilakukan setengah-setengah. “Iklimnya belum mendukung,” papar founder komunitas Jogjanimations ini.





NEWSLETTER


creative-ads