
IKREATIFONLINE.COM. Sejak berdiri sejak tahun 2010 dengan jumlah anggota sebanyak 213 koperasi, kini sudah berkembang dengan memiliki anggota sebanyak 550 koperasi yang tersebar di seluruh Kelurahan dan Kecamatan. Kepercayaan masyarakat Tangsel akan keberadaan koperasi mampu membuat pertumbuhan ekonomi di Tangsel melonjak dengan progres yang sangat baik.
Warman Syanudin, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Tangsel, mengatakan bahwa tujuan terbentuknya koperasi memang sudah sangat jelas. “Sifatnya kan gotongroyong, otomatis mensejahterakan. Karena semuanya dari rakyat, oleh rakyat, dan akan kembali untuk rakyat,” jelasnya bangga. Warman memang patut berbangga, bahwa kolaborasi yang baik antara masyarakat dengan koperasi sangat mem-bantu program kerja yang sudah dirancang oleh dinas pimpinannya. “Untuk mendirikan koperasi di sini sangat mudah. Cukup ada 20 orang sudah bisa mendirikan koperasi,” terangnya. Ia menambahkan bahwa setiap koperasi yang terbentuk akan ditangani pemerintah mulai
dari pembinaan anggota hingga urusan dengan notaris. Program satu koperasi 1.000 UKM jelas sangat membantu masyarakat untuk bisa mengembangkan usahanya. “Kita punya motto, ciptakan pekerjaan bukan mencari pekerjaan,“ cerita Warman pada iKreatif.
Bukti bahwa koperasi di Tangsel sudah sangat mema-syarakat adalah dengan terbentuknya koperasi di sekolah-sekolah bahkan hingga ke masjid-masjid. “Awalnya masjid tidak mau membuka koperasi, namun lambat laun mereka mau membuka. Kini sudah ada 27 masjid yang memiliki koperasi,“ lanjut Warman bahagia.
Koperasi memang menjadi salah satu lini kuat dalam pertumbuhan ekonomi di Tangsel. Saat ini, program yang tengah difokuskan adalah mengentaskan kemiskinan di tengah masyarakat Tangsel. “Caranya ya koperasi harus bisa selaras dan sejalan dengan masyarakat,“ ujar Warman. Warman menjelaskan bahwa ada sekitar 2% masyarakat Tangsel yang ber-SDM rendah dan harus segera dientaskan. Lebih lanjut Warman mengatakan, bahwa koperasi juga bertanggungjawab membina masyarakat dari dasar. “Kita mulai dari yang paling kecil. Misalkan ada seorang ibu menganggur dan tidak punya pekerjaan, kita akan latih sesuai dengan kemampuan dasar yang dia punya. Contoh, dia cuma bisa masak nasi, maka kita akan berangkat dari situ,“ jelasnya.
Meski begitu Warman mengakui, bahwa perjalanan tidaklah mulus. Tentu ada kendala yang menghambat. Salah satunya adalah tentang keanekaragaman latar belakang masyarakat di Tangsel itu sendiri. “Ada 1,4 juta jiwa penduduk Tangsel. Otomatis ada klaster-klaster tersendiri yang harus kita pahami. Tentu menghadapi pegawai tidak sama dengan menghadapi masyarakat yang berekonomi menengah ke bawah,“ jelasnya.
Dalam menyikapi industri kreatif yang tengah marak di Indonesia dewasa ini, merangsang Tangsel untuk ikut ambil bagian berperan di dalamnya. Koperasi tentu saja menjembatani hal tersebut. Misalnya koperasi menyediakan pelatihan secara continue untuk industri kreatif di Tangsel. “Sudah tiga tahun ini ada pelatihan membatik, sablon, pembuatan sepatu kulit dan daur ulang limbah,“ cerita Warman.
Warman mengatakan bahwa produk-produk hasil dari UKM di Tangsel ini memiliki kualitas yang prima. Karena itu ia berpesan agar masyarakat Tangsel bisa menjadi konsumen dari produk mereka sendiri. “Belilah produksi milik kita. Karena di pasar, kualitas kita tidak kalah dengan produk lain,“ tukasnya.