-_batu_indonesia-_terbaik_di_dunia_20151229045921.jpg)
Teks & Foto : Ade Riyan Purnama
IKREATIFONLINE.COM. Di tengah fenomena dan euforia batu permata, ada sejumlah oknum yang memanfaatkannya dengan menjual bebatuan palsu. Penampakannya mirip dengan batu aslinya. Tapi awas, jika lengah, maka Anda akan menjadi korban penipuan dari penjualan batu permata. Guna menghindari penipuan tersebut, ada baiknya periksakan dulu batu mahal Anda ke laboratorium khusus batu atau tanya ke gemologist (orang yang mengerti tentang bebatuan).
MZ Jeffrey, GG mungkin termasuk orang yang tepat untuk ditanyakan hal tersebut. Ia adalah seorang senior bidang gemologist yang sudah 40 tahun lebih mendirikan IGL. Ia bahkan memiliki tiga (3) lisensi gemogist dari GIA di USA, HRD Antwerp di Belgia, dan DIA di Tokyo. Di Indonesia sendiri, Jeffrey adalah Gemologist pertama, saat ia mendirikan IGL di Indonesia pada tahun 1979. “Saat itu hanya ada dua laboratorium, salah satunya punyasaya (IGL),” ujar Jeffrey.
Jeffrey menerangkan bahwa gemologist adalah spesifikasi untuk mengetahui tentang permata, cara mengidentifikasikan permata, terbentuknya dan prosesnya. “Bagi gemologist semua batu adalah permata. Yang menamai itu batu akik atau batu mulia adalah pasar,” jelasnya saat di tanya iKreatif tentang ragam batu yang marak dijumpai saat ini. “Kenapa disebut batu mulia, itu karena harganya mahal. Yang menjadikan mahal adalah pasar. Permintaan banyak, barang sedikit maka harga naik, “ lanjut Jeffrey memperjelas. Menurut pria yang sudah menyukai bebatuan sejak masih remaja ini, bagus atau tidaknya batu itu di luar kuasa manusia sebab batu yang membentuk adalah alam.
Alasan utama Jeffrey membuka laboratorium adalah menyediakan kebutuhan sertifikasi pada batu permata. Pada zaman itu (1979—red) banyak pecinta batu permata yang tidak memiliki ilmu dalam pembelian batu permata, termasuk para pedagangnya yang ‘buta’. Padahal, dengan kemajuan teknologi yang ada banyak sekali jenis batu permata yang bisa dibuat oleh lab dan hasilnya sama seperti batuan yang lahir dari perut bumi. Namun ada perbedaan ciri yang hanya bisa dilihat di laboratorium. Dan karena bisnis permata adalah bisnis yang berlandaskan kepercayaan, maka banyak kesalahan yang tidak sengaja dilakukan dan merugikan salah satu pihak.
Untuk itulah, katanya, diperlukan sertifikasi dengan standar yang benar untuk menghilangkan ketidaktahuan tersebut dan mengurangi kerugian pada bisnis permata. Keabsahan IGL untuk sertifikasi bisa didapatkan karena IGL sendiri memiliki dua gemologist dengan lisensi internasional. Yaitu Jeffrey sendiri dan Naveed Zafar, GG, AJP (GIA), seorang Graduated Gemologist yang terakreditasi di Acrredited Jewerely Profesional.
“IGL dan laboratorium lain di Indonesia tidak ada perbedaan apapun karena ini sifatnya memang laboratorium.Jika gemologist pada lab lain menggunakan standarisasi ilmu yang benar, maka lab tersebut pasti akan memiliki rumus yang sama.” kata Jeffrey yang gencar mengadakan road show ke kota-kota dan di daerah untuk memberikan edukasi tentang permata pada pedagang, pembeli dan pecinta batu akik. Menurutnya tujuan kegiatan seminar dan workshop itu adalah untuk membekali masyarakat Indonesia tentang pengetahuan dalam memilih permata.
Berdiri sejak tahun 1979 dan bertahan hingga kini jelas merupakan prestasi yang sangat layak untuk dihargai. Hebatnya, Jeffrey sendiri tidak merasa mengalami kendala apapun dalam perkembangan IGL selama ini. “Selama menjalankan sesuai aturan saya rasa tidak akan menghadapi kendala apapun. Yah paling hanya pada banyaknya jenis baru pada batu mulia yang muncul. Tapi saya rasa itu bukan masalah yang besar, “ terangnya santai. Ingin mempelajari tentang sejarah terbentuknya alam adalah alasan utama Jeffrey mengambil jurusan gemologist. Baginya, mempelajari batuan alam adalah mempelajari sejarah. “Kalau kita tahu, belajar tentang permata itu sama saja dengan belajar tentang sejarah terjadinya alam,“ ujarnya menerangkan.
Jeffrey menjelaskan bahwa dewasa ini ada beberapa jenis batuan yang dibuat oleh lab, yaitu imitasi dan sintetis. Imitasi hanya merupa warna dengan asli, tapi sintetis sama semuanya dengan alam hanya memiliki perbedaan pada ciri-cirinya. “Banyak orang salah tafsir. Malah mencari batu yang bersih. Padahal kotoran pada batu justru menjadi ciri khas batu asli,” jelas Jeffrey. Ditanya tentang harga sertifikat, Jeffrey mengatakan bahwa di IGL terdapat beberapa macam bentuk sertifikasi batu. “Paling murah Rp150 ribu yaitu dalam bentuk kartu seperti kartu kredit. Yang Rp500 ribujenisnya seperti passport, dan yang paling mahal Rp800 ribu yaitu sertifikat lengkap. Dan jika akan dikeluarkan asal usul negara ditambah Rp200 ribu,” jelasnya gamblang.
Jeffrey mengatakan batu di Indonesia itu adalah jenis batuan terbaik di dunia. Hanya saja cara menggosoknya yang jelek. “Jadi yang jelek bukan mutu barangnya, tapi justru gosokkannya. Orang Indonesia harus berlajar teknologi yang benar supaya menjadi baik,” ujarnya menjelaskan. Jeffrey mengatakan bahwa masyarakat Indonesia masih sangat tradisional. Itulah sebabnya Indonesia kalah dengan luar negeri. “Mereka sudah menggunakan metode laser dan alat teknologi canggih lainnya,” tutupnya menjelaskan tentang kelemahanmasyarakat Indonesia.