
Teks: Ade Riyan Purnama
IKREATIFONLINE.COM. Dalam dunia film Indonesia, nama Mohammad Rivai Riza atau Riri Riza tidaklah asing. Sutradara beberapa film fenomenal seperti Gie dan Laskar Pelangi ini adalah salah satu motor penggerak yang membuka gerbang kebangkitan film Indonesia. Bahkan kesuksesan film Petualangan Sherina dan Ada Apa Dengan Cinta, lahir melalui tangan dinginnya. Lelaki kelahiran Makassar, 2 Oktober 1970, ini memang dikenal jeli dalam menggarap sebuah film. Tak heran, jika hampir semua film yang diluncurkannya laku keras.
Dalam sesi wawancara eksklusif bersama Riri, kami mendapati pengalaman yang tidak hanya seru namun juga baru. Semua pertanyaan dijawabnya dengan mengejutkan dan sangat menohok. Selain filmnya, ternyata peraih penghargaan Sutradara Terbaik FFI tahun 2005 ini juga peka dalam memandang hidup.
Riri, begitu ia akrab dipanggil, mulai membuat film perdananya bersama Mira Lesmana, Rizal Mantovani dan Nan Achnaz yang berjudul Kuldesak di tahun 1998. Setelah itu, ia mulai memunculkan beragam karya yang menampilkan kemampuannya mulai dari Petualangan Sherina, Gie, Untuk Rena, Laskar Pelangi dan sekuelnya Sang pemimpi, hingga karya terbarunya Sakola Alit.
Jika kita melihat semua karya yang dihasilkan Riri, kita akan mengetahui bahwa dia adalah seorang direktur film yang memiliki idealisme tinggi dalam memilih tema di setiap filmnya. Karena menurut Riri, film sangat penting dalam kehidupan berbangsa. “Sebab film masih menjadi suatu tontonan yang dipuja masyarakat. Sehingga dari film, kita akhirnya bisa menyampaikan pesan dan dengan tepat menemukan sasarannya,” katanya.
Menurutnya, film merupakan refleksi dari kehidupan yang kontemporer. Itu sebabnya, dalam memilih tema sebuah film, Riri memusatkan pentingnya suatu perubahan. Baginya, hidup adalah perubahan. Demikian juga dengan film-filmnya. Tak ada filmnya yang menampilkan kehidupan yang konstan dan tak berubah. Semuanya berproses menuju perubahan. Dan itulah hidup.
“Sepanjang hidup adalah riset,” itu jawabannya ketika ditanya tentang setiap tema yang dipilihnya. Dia tidak main-main dalam proses penggarapan setiap filmnya. Inspirasi bisa datang dari mana saja. Setiap lini kehidupan memiliki inspirasinya sendiri. Dan untuk menggenapkan inspirasi itu, Riri akan terus melakukan riset demi keutuhan sebuah karya. Karena itulah, bagi Riri hambatan bukanlah suatu masalah. Selain merupakan director jempolan, Riri merupakan sosok yang memiliki semangat untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Sehingga kemudian akan meminimalisir kendala.
Di era Pemerintah baru ini, Riri berharap akan mendapatkan kemajuan baik bagi film Indonesia. Dewasa ini jumlah film yang keluar telah berbanding terbalik dengan jumlah penonton yang makin menurun. Di sinilah Riri mengharapkan peran Pemerintah. Karena sadar maupun tidak, film akan menggerakkan ekonomi rakyat dan membawa perubahan di dalamnya. “Contohnya Belitung. Setelah pembuatan film Laskar Pelangi, bahkan kini salah satu maskapai kebanggaan Indonesia telah melakukan penerbangan ke Belitung langsung,“ imbuh Riri. Menurutnya itulah yang dimaksud perubahan. Film membawa itu dalam masyarakat.
Namun dengan makin maraknya film Indonesia yang muncul, maka makin banyak pula pembajakan yang terjadi. Namun Riri kembali mengedepankan sikap positifnya dengan mengatakan bahwa sejauh ini semua filmnya tidak ada yang dibajak langsung di dalam bioskop. Kalaupun ada satu dua yang dibajak, itu terjadi setelah master DVD filmnya keluar. Dan Riri akan merelakan itu sebagai pembagian rejeki pada tukang DVD. Karena menurutnya, perubahan ekonomi dalam film terjadi di bidang makro dan mikro. Pemerintah harus arif dalam melihat hal ini. Pembajakan terjadi di Indonesia sebab konsekuensi hukum yang kurang ketat. Sementara industri film mencankup semua aspek mulai dari ekonomi hingga hukum dan perpajakan.
Dengan perkembangan film Indonesia yang pesat dan membanjir, Riri berharap Pemerintah bisa memiliki agenda pemanfaatan budaya yang baik. Dengan begitu seniman-seniman di Indonesia bisa sukses melalui karyanya, bukan dari hasil marketing semata. Sebab katanya, hingga kini perbandingan keberhasilan sebuah film dalam ekonomi masih sangat rendah. Hanya berada di kisaran 10:2.
Terlebih dengan persaingan yang cukup ketat. Ini bisa menjadi wajar, sebab kita berada di wilayah Indonesia yang besar dengan jumlah penduduk mencapai 240 juta jiwa. Pendidikan dan tantangan yang dihadapi pun tinggi. Itu artinya, persaingan di industri film akan makin marak. “Menjadi director sebuah film harus menjadi pecinta kehidupan,“ pesan produser film Pendekar Tongkat Emas ini.