Tuesday, 29 Aug 2017

19 November 2015

ANTARA KOMUNITAS, EDUKASI DAN CARI DUIT

Seni Pop Art Indonesia mendapat sorotan positif lewat WPAP (Wedha’s Pop Art Potrait). WPAP booming dengan hadirnya komunitas pecinta seni yang mendukungnya. 

ANTARA KOMUNITAS, EDUKASI DAN CARI DUIT

Teks & Foto : Rusli M. Tang

IKREATIFONLINE.COM. Hadirnya komunitas dianggap menjadi lokomotif industri kreatif. Dalam berbagai hal, komunitas-komunitas itulah yang  justru menghidupkan suatu kesamaan hobi, seni, atau profesi. Tak terkecuali dengan Komunitas WPAP Chapter Jakarta yang berlokasi di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan.

Adalah Itock Soekarso yang mempelopori bangkitnya seni pop art Indonesia yang sebelumnya sudah ditancapkan dalam-dalam oleh Wedha Abdul Rasyid (founder WPAP). Kegemaran Itock terhadap WPAP tak hanya dibuktikan dari kepiawaiannya membuat ilustrasi beraliran Wedhaism. Tapi juga membangun House of WPAP yang juga berfungsi sebagai kafe, pada Agustus 2013 lalu. Atas aksinya itu, oleh sang founder WPAP, Itock dicap sebagai “orang gila” WPAP. 

“Mungkin kegilaan yang dimaksud adalah saya mempertahankan sesuatu dan saya pikir memang harus ada yang berkorban. Tapi ini bukan pengorbanan yang tanpa perhitungan,” jelas arsitek berambut gondrong ini.

Secara potensi, Itock melihat banyak keunggulan yang dimiliki WPAP. Selain seni yang terbarukan, WPAP katanya memiliki tingkat daya tarik yang unik. “Saya melihat potensi ini sayang jika tidak dimanfaatkan untuk segala hal,” terang Itock yang juga menjadi Ketua Pengurus Komunitas WPAP Nasional. 

Dulu saat jumpa Pak Wedha beberapa tahun lalu, Itock menyampaikan bahwa sayang kalau WPAP ini tidak dipublikasikan atau tidak dikenalkan. Katanya, selain memiliki potensi untuk membuat  anak-anak muda berkreasi lebih dan menjadi alternatif menggambar selain gambar tradisional. “WPAP itu memiliki semacam kemungkinan untuk mempresentasikan suatu bentuk lain yang bisa dinikmati oleh anak-anak muda saat ini,” terangnya.

Banyak kegiatan yang sudah dilakukan oleh Komunitas WPAP ini. Di antaranya adalah membuat pameran, diskusi tentang WPAP, dan kompetisi WPAP. Seperti yang dilakukan baru-baru ini dengan menggelar kompetisi WPAP bertema 100 Tahun Basuki Abdullah.   

Kini Itock dan komunitas WPAP se-Indonesia bahu-membahu memperkenalkan dan menyebarluaskan teknik menggambar ala WPAP dengan merangkul anak-anak muda. Bahkan di House of WPAP sendiri, juga dibuka kelas kursus WPAP secara cuma-cuma di setiap hari sabtu dan minggu.

Selain memberikan edukasi, ada celah bisnis yang juga sudah dijajaki oleh Itock dan kawan-kawan dalam menggawangi seni WPAP ini. Selain menerima pembuatan gambar WPAP secara custom, Itock cs juga memproduksi kaos-kaos bergambar tokoh politik, tokoh musik, dan tokoh lainnya dengan style WPAP yang dijual bebas. Bentuk lainnya adalah gambar WPAP di media sepatu dan mug.

“Sebenarnya apa yang saya lakukan hanyalah memberi contoh. Dalam arti kalau ada desain, lalu bagaimana cara menjual desain itu. Nah itu saya mulai duluan,” ujar Itock yang mengaku memiliki anggota sekitar 40.000 WPAPers.





NEWSLETTER


creative-ads