Thursday, 22 Dec 2016

17 November 2015

KANDANK JURANK DOANK: PABRIK KREATIVITAS Ala DIK DOANK

KANDANK JURANK DOANK  MENJADI SALAH SATU IKON KREATIF DI KOTA TANGSEL. KEHADIRAN TELAH MAMPU MENGEMBALIKAN NILAI-NILAI YANG MULAI TERKIKIS OLEH ZAMAN. INILAH “PABRIK” EDUKASI YANG MAMPU MENGGALI KREATIVITAS ANAK.

KANDANK JURANK DOANK: PABRIK KREATIVITAS Ala DIK DOANK

IKREATIFONLINE.COM. Lantunan lagu nan merdu keluar dari delapan anak usia belasan yang membentuk paduan suara. Sementara delapan anak remaja lainnya asyik memainkan gitar, bass, saksofon, drum, perkusi, dan lain sebagainya sebagai pengiring lagu berjudul Sahabat. Sesekali sang leader, ikut menyumbangkan suaranya dan larut dalam pentas seni musik yang dipertontonkan di depan puluhan anak yatim piatu yang singgah di Kandang Jurang Doank, Kampung Sawah, Ciputat, sore itu.

Usai membawakan dua lagu pembuka, sang leader berucap: “Jadi kalian adalah sahabat-sahabat kita semua. Jadi nggak usah canggung lagi di sini,” seloroh Dik Doank, di depan puluhan anak yatim dalam acara yang bertajuk “Buka Puasa Bareng Anak Yatim-Dhuafa” di Kandank Jurank Doank (KJD) pada pengujung Juni 2015 lalu.

Kesahajaan seniman bernama lengkap Raden Rizki Mulyawan Kertanegara Hayang ini nampak natural. Ia tak menampik jika KJD yang didirikannya sejak tahun 1993 ini telah menjadi wadah kreativitas anak-anak dalam menggali ide dan kreativitas. Terbukti dengan konsep “Sekolah Alam”-nya itu, KJD telah berhasil mencetak kreator-kreator muda di bidang seni dan budaya. Seperti yang sudah dipertontonkannya bersama anak didiknya sore itu.

Terhadap fakta itu, Dik Doank bergeming. Tak peduli dengan segala sebutanitu. Yang terpenting baginya adalah ia melakukan segalanya dengan cinta. “Gue melakukan ini dengan cinta. Cinta itu siap dengan dibebani, cinta itu siap mengasihi, cinta itu menyayangi, cinta itu melindungi, dan cinta itu memberi harapan tanpa berharap,

Jika KJD dianggap sebagai “pabrik edukasi” yang mampu menggali kreativitas anak sehingga menjadi berbudaya dan memahami seni, Dik menampiknya. Karena katanya, KJD hanya tempat keseimbangan saja. “Ketika dunia berjalan ada keberpihakan maka kita coba masuk untuk membuat keadilan,” ujar pria berkacamata yang sebelumnya dikenal sebagai penyanyi dan presenter ini.Keseimbangan yang dimaksudnya ialah membuat leluasa dalam bergerak sehingga melahirkan kewajaran. “Yang dimaksud keseimbangan adalah kita ibadah, kita bekerja, kita berkarya, kita bersosialisasi, dan lain-lain,” imbuhnya.

Terhadap kekayaan seni dan budaya Indonesia yang secara perlahan mulai terkikis oleh zaman, Dik Doank punya pandangan tersendiri. “Aku nggak bangga kalau Indonesia melupakan akarnya, yaitu seni budaya. Kalau kita berkiblat ke barat-baratan atau ke arab-araban maka kita akan kehilangan jati diri. Berarti kita meninggalkan para leluhur kita yang begitu kaya akan imajinasi, kreativitas, gagasan, ide, konsep tentang hidup, ideologi, dan filosofi,” terang Dik.

Kandank Jurank Doank yang berlokasi di Ciputat, memang boleh jadi merupakan anugerah tersendiri bagi Kota Tangerang Selatan. Tak hanya menjadi tempat pendidikan biasa, tapi juga menjadi tempat untuk belajar mensyukuri kekayaan alam, mengenali diri sendiri, dan sekaligus belajar mengenali Tuhannya. Di KJD inilah anak dapat belajar dan menggali potensi dirinya sendiri. Entah itu potensi terhadap seni lukis, seni musik, atau kreativitas lainnya.

Terhadap industri kreatif, Dik menekankan bahwa pentingnya memberikan pendidikan kepada anakanak untuk harus belajar mencipta. Sebab dengan mencipta, berarti anak-anak terbebas dari perilaku menjiplak atau menjadi peniru. “Bangsa ini akan mengalami gelombang pengangguran hebat jika yang lulus sekolah tak bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Dan itu sudah mulai terjadi saat ini,” terang Dik. Ia juga menegaskan bahwa anak-anak sedini mungkin harus dibekali untuk mempunyai jati diri atau memiliki nilai.

Dik yang sudah menjadi ikon kreatif di Kota Tangsel memang telah banyak memberikan edukasi kepada anak-anak yang sifatnya jauh dari modernisasi (karena berbasis alam). Dari edukasi ala KJD inilah ini yang akhirnya memancing rasa, kreativitas, dan imajinasi. Dan itu adalah bagian dari kreativitas yang sesungguhnya atau boleh dibilang sebagai bagian dari pembentukan ekonomi kreatif dari usia dini. “Sejujurnya tidak begitu, karena saya justru belajar dari mereka,” sergah Dik merendah.

Intinya Dik Doank mendukung langkah Pemerintah Kota Tangsel untuk memaksimalkan potensi ekonomi kreatif di seluruh penjuru Tangsel. “Jika ingin memajukan Tangsel, bahasa kita itu bukan bahasa birokrasi lagi. Tapi kita bicara tentang keindahan, tentang kecintaan, tentang apapun yang sekarang sudah ditinggalkan,” imbuh Dik dengan gurat serius.





NEWSLETTER


creative-ads