Wednesday, 14 Mar 2018

22 November 2015

KREATIF MEMBUAT INOVASI DESAIN PERAK

Jogjo Moeljo Art, melestarikan kerajinan perak hingga menjadi bisnis yang menjanjikan.

KREATIF MEMBUAT INOVASI DESAIN PERAK

 

IKREATIFONLINE.COM. Bicara tentang perak dan kerajinannya, ingatan kita akan berlari ke sentra kerajinan perak di Kota Gede Yogyakarta. Ya, di kawasan inilah mereka para perajin dan pengusaha perak yang hingga kini eksis secara turun-temurun. Seperti halnya dengan Jogjo Moeljo Art yang saat ini dinakhodai oleh Waskito Adi Nugroho atau lebih dikenal dengan nama Wasadnug. “Jogjo ini awalnya milik eyang saya. Lantas turun ke ibu saya, sempat berhenti karena moneter lalu saya buka lagi di tahun 1999,“  kata Wasadnug membuka ceritanya.

Sama seperti produksi kreatif di bidang lain, perajin handicraft yang berjuang berdua bersama adiknya ini mengakui bahwa proses kreatifnya terus berkembang. “Awalnya dulu saat zaman eyang saya itu kita lebih fokus pada perak model tradisional seperti teko atau ukiran-ukiran. Saat turun ke ibu saya menjadi fokus ke perhiasan, dan kini saya memiliki tiga  item utama dalam produksi,” jelasnya sembari tersenyum. 

Pria berusia 40 tahun ini mengakatan bahwa di Jogjo kini produksinya sudah ada sekitar 50 item produk. “Tapi ada tiga yang utama yaitu, total interior seperti wayang atau topeng. Lalu corporate seperti miniatur tower, dan aksesoris seperti perhiasan, gantungan kunci dan sebagainya,”  katanya lugas. 

Distribusi dari produksinya sudah tersebar di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bali, Surabaya. “Kalau silver dan perak kami justru ekspor ke Malta. Sebuah negara kecil diselatan Italia. Malta itu seperti Singapura, negara pariwisata,“ ujar pria yang rela bolak-balik Semarang-Yogyakarta demi merintis bisnis handicraft-nya. 

Wasadnug juga mengakui bahwa kesulitan dalam bisnis ini ada di inovasi. Karena Kota Gede basic usahanya dominasi logam maka menjamur usaha se-rupa di sekitarnya. “Kadang kita punya satu design baru dan laku, lalu banyak yang menjiplak. Berinovasi harus cepat, dengan harga yang tidak bisa tinggi sebab persaingan di tempat lain ketat,“ jelasnya ringkas. Selain itu juga menurutnya sebuah inovasi belum tentu bisa diterima pasar. “Market itu musiman. Kalau lagi booming jual barang harga mahal ya tetap cepat laku. Kalau musimnya udah lewat dijual murah juga sulit,“ sambungnya terkekeh. 

Jogjo Moeljo Art ini sendiri berdiri dari sebuah pameran kecil di Ancol, Jakarta, yang lantas membawa Wasadnug ikut pameran di beberapa negara dunia seperti Jepang, Aljazair, Tunisia dan negara-negara timur tengah.

Wasadnug berharap ke depannya akan ada bantuan dari Pemerintah berupa penyuluhan atau pendidikan tentang teknik pengecoran yang baik. “Kita masih tradisional banget. Kalau di luar negeri buat sample sudah bisa lewat komputer. Kita masih manual,“ kata pria yang memiliki 10 orang  ini. Katanya, sudah saatnya Pemerintah turun langsung ke arena demi kemajuan para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia.





NEWSLETTER


creative-ads