Wednesday, 16 Aug 2017

19 November 2015

MENGUBAH LIMBAH KAYU MENJADI EMAS

Memanfaatkan limbah kayu yang terendam di sungai menjadi produk handicraft bernilai ekonomis.

MENGUBAH LIMBAH KAYU MENJADI EMAS

Teks dan Foto : Ade Riyan Purnama

IKREATIFONLINE.COM. Pernah duduk-duduk di bantaran sungai dan melihat onggokan kayu yang berlubang dimakan kapang? Apa yang terlintas di benak kita saat menemukan itu selain jijik dan beringsut menjauh? Tapi tidak demikian dengan Firdaus, ia justru mengotimalkan bahan kayu tersebut menjadi la-dang bisnisnya. 

“Sejak kecil saya melihat kayu-kayu tergeletak di pinggiran kali. Dan ketika ingin berkreasi itulah saya teringat,“ ujar pria yang memilih nama ‘Tangi’ sebagai nama brand handycarft-nya karena ingat nama daerah asalnya itu. ”Sebenarnya ada beberapa teman yang sudah mencoba dengan bahan kayu kapang, tapi mereka kurang fokus,“ imbuhnya santai. 

“Produk pertama saya itu tempat pensil,“ kisah Firdaus mengenang. Pria yang mendirikan bengkel handycraft yang berlokasi di Jalan Sahardjo, Jakarta ini mengatakan bahwa ia ingin memproduksi barang yang memiliki fungsi dan tidak melulu hiasan semata. “Gantungan kunci, tempat tissue, lampu, tempat buah, jam dan yang lainnya,“ ujarnya Firdaus, pemilik Kayu Tangi Art. 

“Tekstur kayu kapang itu bagus,“ jawab Firdaus mantap ketika ditanya mengenai alasannya memilih kayu kapang sebagai bahan baku produksinya. Firdaus juga menjelaskan bahwa sifat kayu pada dasarnya akan makin keras jika terendam secara terus menerus. “Kalau kena air, kena panas, lalu kena air lagi, itu baru jadi lapuk,“ jelas pria yang mempercayakan sistem pemasaran pada istrinya. “ Saya fokus di bengkel saja,“ tegas Firdaus yang memulai usaha kreatifnya sejak tahun 1998 dengan memproduksi kirei dan tikar kayu. 

Sampai saat ini jenis kayu yang digunakan masih sebatas kamper, meranti, ramin, kayu putih, bengkre dan beberapa kayu lainnya. Firdaus juga mengakui bahwa inspirasinya datang dari mana-mana. “Idenya bisa dari siapa saja, bahkan terkadang dari pembeli atau pengunjung pameran,“ kilah Firdaus. 

Mengubah limbah menjadi ‘emas’ adalah salah satu hal yang bisa kita tiru dari produksi Firdaus ini. Dengan kreativitas ternyata kita memang mampu mengubah banyak hal yang sudah tidak berguna menjadi bernilai jual tinggi. “Sampai sekarang sudah ada kira-kira 100 item produksi yang saya buat,“ ujarnya bangga. Ia juga menambahkan bahwa pigura dan tempat lilin masih jadi favorit di pasaran. 

“Pembeli dari mancanegara lebih suka membeli barang yang kecil dan ringan,“ imbuh Firdaus menceritakan pengalamannya dikunjungi turis asing. Tapi ia sama sekali tidak pernah mengirim produksinya keluar negeri. “Agak ribet dan saling tumpang tindih,“ ujarnya beralasan. Otomatis, sejauh ini produksi Firdaus sudah sampai ke berbagai negara dengan cara dibawa langsung oleh pembelinya. Di sinilah salah satu keistimewaan produksi Firdaus. 

Selain mencintai kebudayaan di daerahnya dengan memberikan nama Tangi Art, Firdaus juga telah membersihkan limbah dengan cara yang sangat apik. Masyarakat Indonesia perlu belajar banyak dari konsep usaha Firdaus ini, bahwa sampah dan limbah bisa disulap jadi emas. Mulai sekarang mari kita lihat disekitar kita dan temukan potensi limbah yang menjadi emas di dalamnya.





NEWSLETTER


creative-ads