Wednesday, 14 Mar 2018

20 November 2015

NYOMAN NUARTA: TETAP FENOMENAL MESKI TIDAK GAUL

MEWUJUDKAN TIGA MIMPI DALAM WAKTU DEKAT, MENJADI PRIORITAS SANG MAESTRO SENI PATUNG INDONESIA INI.

NYOMAN NUARTA: TETAP FENOMENAL MESKI TIDAK GAUL

Teks: Zal Hanif & Rusli M. Tang

IKREATIFONLINE.COM. Nyoman Nuarta adalah fenomena seni patung Indonesia. Karyanya begitu fenomenal. Sebut saja Patung Garuda Wisnu Kencana (Badung, Bali), Monumen Jalesveva Jayamahe (Surabaya), dan Monumen Proklamasi (Jakarta). Ketiga mahakarya tersebut tak hanya berhasil menjad ikon tapi juga monumental. Baginya monumental itu selain menyangkut estetika juga memiliki kekuatan sejarah.

“Seindah apa pun alam, tidak terasa lengkap jika belum ada karya tangan anak manusia.” Begitulah ungkapan yang meluncur dari pematung kenamaan asal Bali ketika berbincang dengan iKreatif Magazine di galerinya yang asri di kawasan Sarijadi, Bandung, Jawa Barat, medio Maret 2015 lalu.

Patung atau sculpture, yang merupakan karya manusia, menurut Nyoman memiliki dampak yang cukup besar bagi masyarakat. Sebab kata pria kelahiran Tabanan, Bali, 14 November 1951 ini, seni patung memiliki tiga kekuatan. Yakni sebagai ikon di tengah publik dan menjadi milik publik, menjadi elemen estetik sehingga menjadi penghibur mata, dan dapat menjadi pengikat atau penanda simpul untuk mengingat sebuah lokasi.

“Tidak sedikit patung dibuat sebagai perekam sejarah sebagai monumen, tapi itu belum tentu monumental. Monumental itu, selain menyangkut estetika juga memiliki kekuatan sejarah. Jangan kita hanya berpikir, art for art, seni untuk seni,” ujar seniman yang mengaku sebagai seniman nggak gaul dan dan lebih suka menghabiskan waktu di galerinya ini.

Hingga saat ini, ratusan patung telah lahir dari tangan Nyo man. Karya-karyanya tidak hanya monumental, fenomenal, namun juga ada beberapa yang kontroversial. Satu di antaranya adalah patung Garuda Wisnu Kencana (GWK), yang hingga saat ini belum juga rampung, kendati sudah mulai digarap sejak era Pemerintahan Soeharto.

“Mimpi lama yang harus diselesaikan yaitu patung GWK. Dua tahun ke depan kita selesaikan. Agustus ini kita sudah mulai menaikkan patung itu,” ujar alumnus Jurusan Seni Patung, Institut Teknologi Bandung yang saat ini sedang mengerjakan bagian kepala Patung GWK.

Selain itu, Nyoman mengaku tengah membangun sebuah karya yang tidak kalah fenomenal dan monumentalnya, yaitu Patung Timah (Tin Tower) setinggi 60-80 meter di daerah Bangka, Bangka Belitung. Konsepnya adalah tangan yang mengangkat batangan timah. Proyek ini diharapkan akan menjadi ikon baru di Kota Bangka. “Proyek Timah di Bangka, milik PT Timah, dan baru ide awal saja kita sebut Menara Timah. Kita coba bangun ikon baru di sana,” tegas Nyoman, yang memenangkan Lomba Patung Tugu Proklamator Indonesia, saat masih menjadi mahasiswa (1979—red).

Patung bagi Nyoman, harusnya bukan sekadar penanda. Ia berharap dari patung yang akan menjadi ikon baru suatu daerah justru mampu menjadi lokomotif ekonomi suatu daerah. Misalnya dengan adanya patung atau simbol di satu daerah, maka daearah tersebut akan memiliki daya tarik wisata dan mengundang banyak orang berkunjung.

Merampungkan Patung GWK dan Patung Timah, adalah dua mimpi yang ingin segera ia wujudkan. Namun yang tak kalah pentingnya adalah mereaisasikan mimpi ketiganya, yaitu menyelesaiakan pembangunan galeri dan taman patungnya yang berada di Bandung, yang berdiri di lahan sekitar tiga hektare. Meski belum rampung, namun galerinya bisa dikunjungi oleh empat hingga lima bus saat weekend. “Saya tahu patung saya perlu tempat, kalau di luar negeri mereka punya infrastruktur bagus yangbisa menampung karya seniman. Kita di Indonesia nggak ada tempat untuk seni patung. Terpaksa seniman bikin sendiri,” ungkapnya lirih.

Menurut Nyoman, kondisi saat ini tidak mudah untuk menjadi pematung di Indonesia. Jangankan didukung Pemerintah, yang ada katanya justru “dicurigai”. “Harusnya pemerintah lebih kreatif untuk membuat para pekerja seni patung semakin lebih bergairah. Misalnya dengan memberikan insentif, meringankan pajak, perizinan dipermudah dan lainnya,” imbuh Nyoman yang justru banyak mendapat apresiasi tinggi dari tamu luar negeri atas karya-karyanya.

Terkait kreativitas anak muda Indonesia, Nyoman merasa hal itu banyak dimiliki dan bagus- bagus. Hanya saja, kata Nyoman, harus ditemukan bagaimana cara mendorongnya.

 





NEWSLETTER


creative-ads