
Teks: Rusli M. Tang
IKREATIFONLINE.COM. Dum trak... dum dum trak dum dum...! Bunyi berirama itu keluar dari kotak kayu yang ditepuk oleh Ryan Ade Pratama. Suaranya mirip sekali dengan alat musik drum konvensional. Bedanya, jika drum konvensional menggunakan stik untuk memainkannya, maka bermain cajon (baca: kahon; alat musik asa Peru, Amerika Selatan) hanya cukup ditepuk oleh tangan.
Lalu apa yang membuat mantan drummer terbaik se-Jakarta Utara ini menjadi istimewa? Selain masih muda (27 tahun) dan mahir bermain drum, Ryan juga lihai membuat cajon. Dan yang teristimewa adalah karena Ryan didapuk menjadi PemenangDipomat Success Challenge 2014 (sebuah ajang kompetisi entrepreneurs), setelah menyingkirkan ribuan proposal bisnis dari seluruh Indonesia.
Dari ajang tersebut (Oktober 2014), alumnus jurusan Satra Bahasa Belanda, Universitas Indonesia, ini pun berhak memperoleh hadiah berupa modal usaha senilai Rp2 miliar. “Pencapaian itu sungguh di luar ekspektasi saya. Karena saya pikir bisnis saya ini skalanya masih kecil,” ujar pria yang sempat menjadi guru les drum. Apalagi kata Ryan, usahanya sebagai produsen cajon juga diawali dari sebuah “kecelakaan”.
“Jujur waktu awalnya itu (tahun 2010—red) saya ingin sekali memiliki alat musik cajon. Namun karena tidak punya uang untuk beli, akhirnya saya coba bikin sendiri,” ungkapnya seraya mengenang ikhwal memproduksi drum akustik atau drum tabok.
Saat masih menyandang status mahasiswa itulah, Ryan menjajal memproduksi Cajon. Katanya, selain dibutuhkan keberanian juga diperlukan kesungguhan dalam mengawalinya. Ryan merogoh kocek sebesar Rp2juta untuk mencoba memproduksi drum tabok yang kini dikenal dengan merk Koning (dari bahasa Belanda, yang berarti Raja).
“Waktu awal produksi, saya pinjam cajon teman untuk dibongkar dan ditiru. Selain itu saya juga rajin mencari referensi produk ke toko-toko musik,” jelas pria yang sempat menjadi wartawan kuliner ini. Awal produksi, Ryan berhasil menciptakan empat unit cajon. Dan dari penjualan dua unit cajon produksinya, ia sudah balik modal. “Kebetulan pasarnya memang sudah ada dan saya tahu bagaimana cara memasarkannya. Selain door to door saya juga banyak menjual lewat internet,” tegas Ryan yang menggunakan kayu sungkai dan meranti dalam memproduksi cajon.
Setelah setahun lebih memproduksi, Ryan mulai galau. Di satu sisi ia harus menempuh profesi formal pasca lulus kuliah, namun di sisi lain ia sudah eksis menjadi produsen cajon. Pikirannya melayang dan coba membandingkan harapan dan kenyataan.
“Kondisinya saat itu saya adalah lulusan sastra dengan IPK pas-pasan. Lalu punya band tapi nggak ngetop, dan menjadi wartawan dengan pengeluaran yang lebih besar dari gaji. Di sisi lain saya sudah menjadi produsen cajon,” ungkap Ryan lirih. Hingga akhirnya pada 2012 itu ia memutuskan untuk fokus menjadi produsen drum akustik. “Teryata lebih menjanjikan jualan cajon,” ucap lelaki yang mengoleksi piala kompetisi bermain drum.
Dengan keseriusannya, kini Ryan mampu memproduksi cajon sebanyak 200 unit per bulan. Dan baru- baru ini ia berkreasi dengan memunculkan cajon untuk anak-anak yang diberi nama kinderen. Total ada empat varian cajon produksi Ryan, yaitu; Beatrix, Van Peru, Wilhelmus, dan Kinderen. Harganya bervariasi mulai dari Rp800 ribu hingga Rp1,2 juta per unit. Khusus untuk tipe Beatrix, Ryan membuat terobosan baru dimana cajon produksinya dirancang khusus dengan menempatkan sner wire system di sisi kiri.
Ryan mengakui bahwa antara bermusik dan berbisnis adalah hal yang bertolak belakang. “Kadang kita jadi musisi harus idealis, tapi karena saya sadar bahwa menjalani bisnis ini harus profit oriented,” ujar Ryan yang memiliki workshop di bilangan Depok, Jawa Barat. Belakangan, selain memproduksi cajon, Ryan juga melebarkan sayap bisnisnya dengan memproduksi soft case alat musik. Dan pastinya, saat ini ia pun coba memasarkan produknya ke luar negeri.
Produsen cajon lokal memang tak hanya milik Ryan, karena masih ada pemain lain yang juga memiliki karya sejenis. Namun Ryan mengklaim bahwa ia adalah pelopor cajon lokal. “Sesuai dengan filosofi nama Koning yang berarti raja, tentunya saya ingin menjadi market leader di penjualan cajon yang diproduksi oleh anak negeri,” ungkap Ryan yang akan membuka sekolah kursus cajon.